Rabu, 08 Februari 2012

Siaran Pers

Laba Bersih Astra untuk Sembilan Bulan Pertama 2009 mencapai Rp 7,1 triliun

JAKARTA: PT Astra International Tbk dan anak perusahaannya (“Astra” atau “Perseroan”)
pada hari ini, Jumat, 30 Oktober 2009 mengumumkan bahwa kinerja Perseroan pada kuartal
ketiga yang berakhir bulan September 2009, mengalami sedikit penurunan dibanding dengan
periode yang sama tahun 2008.
Situasi perekonomian Indonesia, yang secara umum tidak terlalu terpengaruh dari dampak
krisis ekonomi global, memperlihatkan pertumbuhan dalam sembilan bulan pertama tahun
2009, walaupun dengan angka pertumbuhan lebih rendah, antara lain didukung oleh kuatnya
permintaan domestik yang ditandai salah satunya dengan meningkatnya pasar kendaraan
bermotor dibandingkan dengan penjualan kuartal sebelumnya, diluncurkannya paket-paket
stimulus oleh pemerintah serta relatif kecilnya ketergantungan Indonesia pada pasar ekspor.
Penurunan laba Perseroan terjadi pada bidang usaha Otomotif dan Agribisnis dalam sembilan
bulan pertama 2009, namun kondisi ini terkompensasi oleh peningkatan laba dari bidang Jasa
Keuangan, Alat Berat dan Kontraktor Penambangan.
”Kinerja Perseroan pada sembilan bulan pertama 2009 belum menyamai pencapaian pada
periode yang sama di tahun 2008, namun kondisi ekonomi kian kondusif dan secara umum
akan membaik menjelang akhir tahun ini” ujar Michael D. Ruslim, Presiden Direktur PT Astra
International Tbk.
Performa
Pendapatan bersih Perseroan sembilan bulan pertama yang berakhir pada 30 September 2009
mencapai Rp 70,6 triliun atau turun 4% dibandingkan dengan Rp 73,8 triliun pada periode yang
sama tahun sebelumnya. Laba usaha mengalami penurunan 5%, yaitu dari Rp 9,96 triliun
menjadi Rp 9,50 triliun, sehingga sepanjang sembilan bulan pertama tahun 2009 laba bersih
Astra turun 4% dari Rp 7,4 triliun pada periode yang sama tahun 2008 menjadi Rp 7,1 triliun.
Sementara itu laba bersih per saham turun 4% menjadi Rp 1.755 dari Rp 1.821.
Aktivitas Bisnis

Bidang Otomotif dan Jasa Keuangan
Laba usaha bidang usaha Otomotif dan Jasa Keuangan, tidak termasuk perusahaan asosiasi
dan jointly controlled entities, tercatat sebesar Rp 3,3 triliun, turun 3,51% dibandingkan periode
yang sama tahun 2008. Bagian atas hasil bersih (share of results) dari perusahaan asosiasi dan
jointly controlled entities bidang usaha Otomotif dan Jasa Keuangan mencapai Rp 1,6 triliun,
lebih rendah 13% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Total penjualan mobil sepanjang sembilan bulan pertama tahun 2009 adalah sekitar 337.000
unit, turun 28% dibandingkan periode yang sama tahun 2008, dikarenakan melemahnya
permintaan konsumen, terutama di kuartal pertama dan kedua 2009. Porsi penjualan mobil
Grup Astra menurun 18% menjadi kurang lebih 195.000 unit, sehingga pangsa pasar naik
menjadi 58% dibandingkan 51% pada periode yang sama 2008. Di kuartal ketiga Astra
meluncurkan beberapa model baru dan facelift, termasuk diantaranya Toyota Camry, Fortuner
2.5G Diesel A/T, Kijang Innova J, new Rush G, new Rush S dan Daihatsu Sirion M.
Sementara itu, penjualan sepeda motor sepanjang tiga kuartal tahun 2009 mengalami
penurunan 14% menjadi sekitar 4,1 juta unit dibanding periode yang sama tahun 2008. PT
Astra Honda Motor (AHM) membukukan penurunan penjualan sepeda motor Honda sebesar
16% dikarenakan kompetisi yang sangat ketat, sehingga mencapai pangsa pasar 46%. AHM
meluncurkan produk Vario Techno, pada bulan Juli 2009.
Sektor manufaktur komponen juga terpengaruh, dimana PT Astra Otoparts Tbk (AOP) mencatat
penurunan laba usaha sebesar 24% terutama dikarenakan tingginya beban usaha. Laba bersih
AOP turun 5% menjadi Rp 547 miliar. Perseroan saat ini memiliki 95,65% saham AOP,
meningkat dari kepemilikan sebelumnya 93,91%.
Bidang usaha Jasa Keuangan Astra, diantaranya PT Federal International Finance dan Astra
Credit Companies selama sembilan bulan pertama mencatat nilai pembiayaan 8% lebih rendah
dari periode yang sama tahun lalu, yaitu sebesar Rp 19,8 triliun. Sementara itu, laba bersih PT
Bank Permata Tbk mencapai Rp 495 miliar, meningkat 29% dibandingkan periode yang sama
tahun lalu, dikarenakan pendapatan bunga yang lebih tinggi dan pendapatan usaha lainnya.
Sumber Daya Alam dan lain-lain
Laba usaha dari bidang usaha Sumber Daya Alam dan bidang usaha lain Astra, yang terdiri dari
Agribisnis, Alat Berat, Pertambangan, Teknologi Informasi dan Infrastruktur, menurun 6%
menjadi Rp 6,1 triliun, terutama disebabkan penurunan tajam pada harga CPO. Kondisi ini
terbantu oleh hasil yang baik dari bisnis alat berat dan pertambangan.
Laba bersih PT Astra Agro Lestari Tbk, yang 79,68% sahamnya dimiliki oleh Perseroan, turun
41% menjadi Rp 1,2 triliun dibandingkan periode yang sama tahun lalu akibat penurunan harga
CPO yang berada pada kisaran 21% lebih rendah dibanding tahun sebelumnya. Sementara itu,
produksi minyak sawit naik 7% menjadi 786.000 ton.
Laba bersih PT United Tractors Tbk, di mana 59,5% sahamnya dimiliki Perseroan mencapai
kurang lebih Rp 3 triliun untuk sembilan bulan pertama tahun 2009, naik 42% dibandingkan
periode yang sama tahun 2008. Penjualan unit Komatsu turun 41%, namun laba meningkat
terutama dikarenakan kontribusi PT Pamapersada Nusantara (PAMA), anak perusahaan UT.
Sebagai kontraktor penambangan terbesar di Indonesia, PAMA memberikan keuntungan
dengan adanya ekspansi berlanjut pada sektor tersebut. Selama periode sembilan bulan
pertama 2009 ini, ekstraksi batubara mengalami peningkatan 10% menjadi 48 juta ton dan
peningkatan overburden removed sebesar 32% menjadi 435 juta bcm, sementara penjualan
dari tambang milik grup usaha Astra tercatat sebesar lebih dari 1,8 juta ton.
PT Astra Graphia Tbk, mengalami penurunan laba bersih sebesar 16% dikarenakan penurunan
margin.
Sementara itu investasi Perseroan di bidang infrastruktur menunjukkan performa yang
memuaskan. PT PAM Lyonnaise Jaya, pengelola dan distributor air minum untuk Jakarta
bagian barat, mengalami peningkatan volume penjualan sebesar 2% menjadi 103 juta meter
kubik air. PT Marga Mandalasakti, operator jalan tol, mencatatkan volume trafik sebesar 20,2
juta kendaraan, sama dengan tahun lalu.

Jasa Keuangan

Guna mendukung perluasan usaha dan meraih peluang pertumbuhan di bidang Jasa Keuangan, Astra mengambil dua langkah besar di tahun 2010, yaitu dengan meningkatkan kepemilikannya di PT Astra Sedaya Finance (ASF) dan penghimpunan dana melalui rights issue PT Bank Permata Tbk (PermataBank).

Konperasi Astra Internasional


Koperasi Astra International (KAI) berdiri pada 25 Juni 1990. KAI didirikan untuk membantu meningkatkan kesejahteraan karyawan Astra termasuk Grup Astra. KAI memiliki dua kegiatan utama yaitu kegiatan yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan anggota dan kegiatan yang bertujuan untuk mengembangkan kemampuan kewirausahaan. Melalui dua kegiatan ini, KAI menyediakan berbagai produk dan layanan antara lain, pinjaman jangka pendek, beasiswa, kredit uang muka rumah, dan pembinaan kewirausahaan.

Ikhtisar PT.ASTRA

Astra International dan seluruh perusahaan di Grup Astra melakukan berbagai macam program Corporate Social Responsibility. Kemampuan Astra melibatkan masyarakat dalam kegiatan-kegiatan itu tidak lepas dari kemampuan Perusahaan meraih laba dari tahun ke tahun, namun niat sesungguhnya untuk membantu masyarakat berpangkal pada pengakuan Astra bahwa keberhasilan tersebut juga karena peran masyarakat di sekitarnya. Karena itu, Astra senantiasa tumbuh dan berkembang bersama masyarakat.

Selaras dengan filosofi Catur Dharma, Astra berupaya menjadi aset bagi bangsa dengan menekankan tiga pendekatan dasarnya yaitu Planet, People dan Profit. Ketiga pendekatan dasar itu melekat dalam berbagai kegiatan CSR Astra melalui program, yayasan dan karya nyata untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat dalam empat bidang utama:
1) Pendidikan
2) Lingkungan
3) Kesehatan
4) Usaha Kecil Menengah / Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat
Fokus semua kegiatan ini tak lain adalah pemberdayaan masyarakat melalui partisipasi timbal-balik.
Astra telah menerbitkan Astra Friendly Company (AFC) sebagai panduan dalam melaksanakan berbagai kegiatan CSR secara konsisten di seluruh unit usahanya. Dengan berfokus pada tiga pilar dasar – nilai, pola pikir dan perilaku – setiap unit usaha dapat merancang program CSR dan dinilai berdasarkan efektivitas programnya sesuai "Pedoman Kriteria Penilaian untuk Astra Friendly Company."
Pedoman Kriteria Penilaian ini mencakup indikator kinerja utama dan arah konstruktif dari suatu program CSR. Seluruh pemangku kepentingan termasuk para karyawan dan keluarga mereka, pemegang saham, pelanggan, pemasok, masyarakat luas maupun pemerintah, dapat dilibatkan dalam upaya meraih tujuan bersama dan mencapai masa depan lebih baik bagi masyarakat Indonesia melalui pendekatan AFC.
Yayasan di bawah Grup Astra
Untuk menyebarluaskan dan melaksanakan berbagai program CSR-nya, Astra mengelola sejumlah yayasan. Seluruh yayasan ini berperan sebagai pintu gerbang dalam menjangkau dan membantu memenuhi aspirasi masyarakat. Yayasan-yayasan tersebut adalah Yayasan Toyota Astra (YTA), Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA), Yayasan Pendidikan Astra – Michael D. Ruslim (YPA - MDR), Yayasan Astra Bina Ilmu (YABI), Yayasan Astra Honda Motor, Yayasan Amaliah Astra (YAA) dan Yayasan Karya Bhakti UT

Pengembangan SDM


Berkat dukungan 168.945 karyawan yang berkualitas, Astra berhasil meraih berbagai prestasi. Astra memahami bahwa Sumber Daya Manusia memegang peran penting dalam pencapaian sukses bisnis. Mengacu pada kerangka strategis “Winning Concept, Winning System & Winning Team” Astra selalu berusaha meningkatkan kualitas karyawan sehingga mampu berkontribusi signifikan terhadap kinerja perusahaan.
Pengembangan SDM di Astra tidak hanya menjadi tanggung jawab Corporate and Human Capital Development (CHCD), melainkan seluruh jajaran manajemen di Grup Astra. Seluruh jajaran manajemen bertanggung jawab mengembangkan SDM melalui upaya-upaya yang mengarah pada penguatan kultur perusahaan dengan mengacu pada Catur Dharma sehingga berdampak pada perkembangan bisnis Astra secara keseluruhan.

Tata kelola perusahaan PT. ASTRA INTERNASIONAL


Dalam menjalankan roda perusahaan, manajemen Astra mempercayai dan memahami bahwa setiap keputusan bisnis yang diambil harus berdasarkan pada Catur Dharma. Sepanjang sejarah Astra, nilai-nilai falsafah tersebut selalu menjadi acuan manajemen. Dan dengan berjalannya waktu nilai-nilai tersebut semakin terinternalisasi dan tercermin dalam semua aspek operasional perusahaan.
Walaupun begitu, dengan perkembangan bisnis yang makin kompleks, dirasakan semakin perlu adanya suatu proses tata kelola yang terstruktur untuk mengelola aktivitas bisnis Astra agar tetap sejalan dengan Catur Dharma serta mengarahkannya agar tetap berlangsung di masa yang akan datang.
Keadaan ini mendorong diawalinya suatu inisiatif pada akhir tahun 2006 untuk menyusun suatu pedoman agar dalam menata kelola bisnisnya Direksi tetap profesional, transparan dan bertanggung jawab. Dalam perkembangannya pedoman ini kemudian dikenal sebagai Pedoman Good Coorporate Governance(GCG) yang juga menjadi acuan anggota Direksi dan anggota Dewan Komisaris dalam menjalankan perusahaan agar senantiasa memperhatikan peraturan perundang-undangan, anggaran dasar Perseroan serta prinsip GCG yaitu transparansi, akuntabilitas, responsibilitas dan kesetaraan.

penerapan perencanaan SDM PT. ASTRA MOTOR HONDA

PT.ASTRA MOTOR HONDA adalah perusahaan manufakturing dan distribusi sepeda motor terbesar di Indonesia. Visi PT.ASTRA MOTOR HONDA selalu berupaya untuk menyediakan solusi mobilitas tebaik yang mampu memenuhi kebutuhan konsumen dengan sistem menejemen kelas dunia. dan tujuannya membutuhkan sumber daya manusia yg tebaik, kreatif, inofatif dan kompetitif dalam mengelola SDM yg profesional dan prinsip fair and eksternally competitive disertai dengan perkembangan SDM sesuai dgn program-program pelatihan dan jenjang karir yang jelas dengan berkembangnya bisnis sepeda motor yang meningkat.